Budidaya Perkebunan Karet 

Posted on

Budidaya Perkebunan Karet Hevea brasiliensis, atau yang umumnya dikenal sebagai pohon karet adalah jenis pohon tegak yang cepat tumbuh dengan batang lurus serta memiliki mahkota berdaun terbuka. Kulit batang biasanya berwarna abu-abu dan cukup halus. Di kulit batang inilah bagian dari pohon karet dapat dipanen. Di alam liar, pohon karet dapat tumbuh hingga lebih dari 40 meter dengan masa hidup lebih dari 100 tahun. Namun, tanaman yang dibudidayakan biasanya jarang tumbuh di atas 25 tahun.

Tinggi pohon karet yang biasanya 30 meter diakibatkan karena pengurangan pertumbuhan karena panen lateks dengan penyadapan. Selain itu, pohon-pohon biasanya ditanam kembali setelah sekitar 30 tahun ketika hasil produksi karet jatuh ke tingkat yang tidak ekonomis. Hal ini berfungsi untuk meregenerasi pohon karet agar dapat dipanen kembali.

Hevea brasiliensis adalah sumber utama karet alam komersial. Secara kimia, karet alam memiliki berat molekul mulai dari 200.000 hingga 8.000.000 dilengkapi dengan sifat viskoelastik. Karet alam yang diproduksi dalam lateks terdiri dari sel-sel khusus yang disebut latisifer. Latisifier merupakan salah satu makromolekul biologis yang paling penting, digunakan sebagai bahan baku industri untuk pembuatan sekitar 50.000 produk berbahan dasar karet.

Meskipun karet alam telah ditemukan lebih dari 2.000 spesies, H. brasiliensis tetap menjadi satu-satunya spesies yang dibudidayakan sebagai sumber komersial karet alam karena kelimpahannya di lateks, kualitas yang sangat tinggi dan kenyamanan ketika masa panen.

Pada budidayanya, penanaman pohon karet perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini.

  • Pada lahan yang datar, tanah harus dikeringkan dengan baik.
  • pH tanah harus berada di antara 4,5-6,5 (pH ideal adalah 5,5).
  • Aerasi tanah yang baik yaitu sekitar 30%.
  • Tanah lapisan atas mengandung bahan organik yang melimpah.
  • Suhu minimun adalah 20 C dan maksimumnya adalah 34
  • Kelembaban udara 80% dengan angin yang sedang.
  • Curah hujan yang cukup dan merata sekitar 2.000mm.

Pohon karet dapat ditanam dengan beberapa media tanam yang berbeda. Media yang biasanya digunakan adalah pencangkokan tunas, graft tunas dalam kantong plastik, tunas cangkok sepuluh bulan, dan masih banyak lagi.

Untuk teknik penanaman ada 2 metode yang digunakan, yaitu:

  • Penanaman tunas
    Pegang planlet yang tegak dan letakkan bagian bawah batang ke tengah lubang tanam. Pastikan arah tunas yang dicangkok diubah ke arah mata angin yang ada pada saat itu. Lubang tersebut kemudian diisi dengan tanah halus dan tanah di sekitar batang harus ditekan dengan kuat untuk membuat tanah menjadi padat dan kokoh.
  • Pembenihan di kantong plastik atau polybag
    Bagian bawah kantong plastik atau polybag harus dipotong dan dibuang. Pangkas semua akar yang melingkar di bagian bawah polybag tersebut kemudian tempatkan planlet di tengah lubang, dengan tunas yang dicangkokkan berputar ke arah mata angin yang ada pada saat itu. Potong sisa polybag dari bawah ke atas. Isi lubang dengan tanah dengan kuat tetapi tetap perlakukan lembut tanah yang berada di sekitar planlet. Pastikan bahwa permukaan tanah sekitar 1 cm di bawah tunas yang dicangkok. Letakkan sepotong kecil bambu ke tanah di samping pohon, untuk melindungi kuncupnya. Taruh alas bambu di samping plantlet dengan daun, dan kencangkan ke tanaman, untuk mencegah kerusakan dari angin yang kencang. Pastikan juga untuk memberikan celah pada dasar polybag untuk memungkinkan sirkulasi udara di dalam partikel tanah.

Demikian lah sedikit artikel mengenai Budidaya Perkebunan Karet ,Cara Budidaya Tanaman Karet,Teknis Budidaya Karet diindonesia semoga bisa bermanfaat dan membantu kawan kawan semuanya ya jangan lupa untuk selalu ikuti artikel artikel menarik lainnya disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *