Cara Pemeliharaan Bibit Kelapa Sawit Yang Baik

Posted on

Pemeliharaan pembibitan merupakan faktor utama yang keberhasilan program pembibitan. Tanpa pembibitan yang baik, bibit yang unggul sekali pun tidak akan bisa mengekspresikan keunggulan dan semuanya akan menjadi sia sia.

1. Pemeliharaan persemaian (per-nursery) 

Pemeliharaan merupakan priode kritis seperti pada pemeliharaan bayi yang baru dilahirkan. Kecerobohan dalam pemeliharaanpersemaian dapat menyebabkan kecambah mati (tidak tumbuh). Gangguan yang terjadi pada persemaian akan berakibat burauk denga n rentetan yang panjang. Hal ini terutema terjadi pada saat melakukan seleksi karena akan timbul kebingungan dalam menentukan faktor penyebab gangguan pertumbuhan, yaitu faktor genetif atau faktor kesalahan teknis budi daya.

A. Penyiraman

Penyiraman dilakukan secara manual dengan kebutuhan tangga kerja 1 HK (hari kerja) untuk 40.000 semai. Semei disiram 2 kali sehari-pagi dan sore-kecualai bila hari hujan dengan curahan minimal 8 mm. Untuk itu, di areal prmbibitan harus dipasang tabung penakar curah hujan. Penyiraman dilakukan dengan gembor. Persediaan air diambil dari drum yang ditempatkan pada setiap blok persemaian.

B. Penyiangan gulma

Penyiangan gulma dalam kantong dilakukan 2 minggu sekalai, termasuk menambah tanah ke dalam kantong bagi bibit yang miring dan tersembul akarnya. Umumnya, 1 hari kerja (HK) dapat menyiangai 4.000 semai (600 semai/jam selama 7 jam kerja) sehingga dalam 2 minggu (12 hari),  seorang kariawan dapat menyiangai 50.000 semai. Dengan membagi program penanaman kecambah dalam 4 bulan @ 100.000 kecambah, jumblah semai yang perlu disiangi maksimal 300.000 semai. Selama priode itu, hanya diprlukan maksimal 6 orang kariawan  untuk menyelesakan program penyiangan.

C. Pemupukan

Pemberian pupuk majemuk dan urea dalam bentuk larutan dilakukan setelah semai berumur 1 bulan dengan interval  waktu setiap minggu.

Bibit kelapa sawait merespon  yang sangat baik terhadap campuran unsur NPK. Aplikasi pupuk NPK yang efektif dan efisen terutema diberikan dalam dosis rendah secara kontinu. Dengan sisitem penyiraman dan curah hujan yang cukaup tinggi, sebagai unsusr hara (pupuk) yang diberikan tercuci dan hilang. Aplikasi pupuk secara manual sesuai dengan tingkat kebutuhan bibit umumnya memerlukan banyak tenaga kerja,mhal, dan cenderung tidak akurat. Aplikasi pupuk NPK  coated yang controlled-release-seperti meister MX 20-6-14+3Mg+TE-dapat memecahkan masalah karena cukup diberikan 1kali pada saat tananm kecambah dan 1 kali pada saat alih-tanam ke pembibitan utama. Tentu saja, hal ini dilakukan dengan pertimbangan harga yang relatif mahal dan ketersediaan tenaga kerja.

D. Hama dan penyakit

Penyenprotan pestisida untuk mengendalaikan hama dan penyakit dipersemaian tidak sangat dianjurkan, apalagi dengan pestisida yang mengandung logam berat,  seperti tembaga (Cu), air raksa (Hg), dan timah (Pb). Hama dan penyakit penting di persemaian umumnya hama pir sama dengan di pembibitan sehingga akan diuraikan lebih lanjaut  di berikutnya.

E. Seleksi semai

Di persemaian, sekitar 5-10% semai hilang karena serangan hama dan penyakit serta terutanma seksli karena penjarangan (seleksi). Seleksi dilakukan 2 tahap, yaitu pada umur 4-6 minggu (tahap pertama) dan pada saat sebelum di pindhakan ke kantong besar (tahap terahir , umur 3 bulan). Apabila dijumpai semai abnormal yang disebabkan oleh faktor genetif makai semai harus dibuang, walaupun seleksi tahap akhir belum waktunya untuk di lakukan. Pembuangan semai abnormal dilakukan petak per petak dengan membandingkannya pada pertumbuhan rata rata di petak tersebut. Semai yang normal mempunyai bentuk daun lanceolate, di mana setiap daun yang keluar pada akhir pertumbuhannya  akan lebih besar dari daun yang terdahulu. Pada umur 3 bulan, semai sudah berdaun 3-4 helei dengan diameter leher  akar 6-10 cm dan tinggi semai 30-35 cm (daun direntangkan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *