Musim dan Pola Tanam di Indonesia

Posted on

Musim dan Pola Tanam di Indonesia – Indonesia adalah negara agraris ditambah letak nya yang strategis di garis khatulistiwa. Berkat itu bertani menjadi pekerjaan utama untuk waktu yang sangat lama. Namun, polusi dan pemanasan global menyebabkan cuaca dan musim yang tidak menentu. Untuk itulah dibutuhkan pengetahuan tentang musim dan pola tanam bagi petani Indonesia. Berikut adalah penjelasan musim tanam dan pola tanam di Indonesia.


A. Musim Tanam
Musim Tanam memiliki definisi musim atau waktu yang tepat untuk mulai tahap permulaan menanam tanaman, misalnya padi, jagung, kedelai dan lain lain. Di Indonesia, musim tanam atau MT terjadi 3 kali setahun dan 4 bulan per MT. Musim tanam tersebut adalah:

1. Musim tanam utama: Terjadi mulai November-Maret. Di musim ini curah hujan relatif tinggi sehingga sangat cocok untuk memulai bercocok tanam.

2. Musim tanam gadu: Terjadi mulai April-Juli. Di musim ini pengairan sangat sedikit dan hanya mengandalkan curah hujan.

3. Musim tanam kemarau : Terjadi mulai Agustus-Oktober. Di musim ini system pengairan atau irigasi harus bagus.
Bertani dengan memerhatikan musim tanam akan menghasilkan hasil yang optimal karena memerhatikan waktu penanaman dan pola tanaman yang dipakai. hasil yang dipanen pun bias bervariasi karena jenis tanam mengikuti musim tanam.

B. Pola Tanam
Pola Tanam adalah suatu pola penanaman dengan mengatur letak, jenis dan urutan tanaman di sebidang lahan selama periode waktu tertentu, termasuk juga masa pengolahan tanah dan masa tidak ditanami.

Pola Tanam terbagi dalam 2 macam:
1. Pola Tanam Monokultur
Pola penanaman dengan menanam tanaman sejenis pada satu lahan. Contoh: lahan ditanami jagung saja, padi saja, dll.
Kelebihan: tanaman pembudidayaannya mudah karena hanya 1 varietas saja yang ditanam.
Kekurangan: Tanaman mudah terserang hama penyakit.

2. Pola Tanam Polikultur
Suatu pola penaman dengan banyak jenis tanaman dalam satu bidang lahan dengan memperhatikan kaidah dan aturan penanaman, tentunya dengan aspek lingkungan yang baik.
Kelebihan:
• Mengurangi serangan hama atau organisme penganggu tanaman.
• Memperoleh hasil panen yang beragam.
• Menambah kesuburan tanah.

Kekurangan:
• Ada persaingan untuk memperebutkan unsur hara antar tanaman.
• Pada awalnya hama bervariasi sehingga sangat sulit dikendalikan.
Tanaman polikultur terbagi menjadi:
1. Tumpang Sari (Intercropping): Melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman dalam satu bidang lahan, umurnya sama tetapi berbeda jenis. Contoh: Tumpang sari antara jagung dan kedelai. Tumpang sari antara padi dan palawija.

2. Tumpang Gilir (Multiple Cropping): Penanaman dengan dilakukan secara berturut turut sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor lain yang bisa jadi mempengaruhi hasil. Contoh: Padi Goho, Kacang tanah, dll.

3. Tanaman Campuran (Mixed Cropping): Penanaman beberapa jenis tanaman dalam satu tampat tanpa mengatur jarak tanamnya. Cara ini berisiko terhadap perkembangan hama atau penyakit yang dapat menyerang. Contoh: Tanaman campuran seperti ubi kayu, jagung, dan palawija.
Contoh singkat penjelasan hubungan pola tanam dan Musim tanam
Seorang petani menanam padi inpari saat MT 1, umur padi 109-117 hss. Petani itu panen diumur 119 hss. Sesaat sesudah panen, dia sudah memperisapkan tempat persemaian dan menyebar benih
Di MT2, benih baru tersebar pada bulan maret. Petani memakai padi Logawa yang berumur 104 hss. Di awal Juli, Logawa dipanen. Setelah dipanen, jerami dikumpulkan di suatu tempat
Di MT3, petani mulai menanam komoditas pangan kedelai. Petani tidak lagi megolah lahan sebab bekas panen Logawa masih bisa dipakai. Jadi jarak tanam tinggal mengikuti alur jarak Logawa. Untuk kedelai ini menghabiskan waktu sekitar 3 bulan.
Di awal bulan September, petani bisa mendapatkan 2,5 ton/ha, dan harga kedelai lokal bisa mencapai 6000-6500/kg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *