Sistem Pertanian di Eropa

Posted on

Sistem Pertanian di Eropa – Selama ribuan tahun, pertanian di Eropa didasarkan hanya pada sejumlah kecil tanaman serta beberapa varietas domestik. Ini yang mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan ekonomi disana. Tetapi, Seiring berkembangnya era modern, persediaan dan produksi tanaman di Eropa semakin meningkat.
Pada Abad Pertengahan, pemukiman di pedesaan hanya menyediakan makanan bagi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan pada setiap jenis produksi makanan di setiap tempat. Berbicara mengenai produksi makanan, sebenarnya dengan meningkatkan inovasi transportasi pada saat itu, bisa saja membuat peluang berkembangnya pertanian menjadi lebih tinggi.
Kapasitas penyimpanan pertanian dan jarak dari desa ke kota, membuat dua hal ini menjadi faktor penentu dari apa yang dihasilkan di sektor pertanian.

Dekat dengan daerah perkotaan, memungkinkan tanaman untuk tumbuh serta meminimalisir kemungkinan rusaknya sebuah tanaman. Namun, Pada abad ke-20 dan ke-21, reformasi tanah menyebabkan peningkatan ukuran lahan. Ini memberikan dampak yang besar pada perkembangan pertanian itu sendiri.
Di pertengahan abad ke-20, jagung sebagai tanaman yang dapat tumbuh di lahan basah, diperkenalkan dari Amerika. Karena periode vegetasinya yang pendek, menanam jagung dapat meningkatkan masalah erosi pada tanah. Pengenalan jagung saat itu juga bisa dibilang revolusioner. Karena jagung di sana, berfungsi sebagai tanaman pakan ternak dan memungkinkan peternak untuk menjadi independen dalam hal pertanian.
Pada paruh kedua abad ke-20, terjadi kelebihan produksi di Eropa. Puncaknya terjadi pada tahun 1970-an. Hal ini menyebabkan banyak lahan pertanian dimiliki oleh petani paruh waktu dan sebagian besar lahan yang awalnya diharapkan untuk menjadi pembangunan pertanian yang menghasilkan, menjadi tidak menguntungkan.
Tantangan terbesar membuka lahan pertanian di Eropa adalah konversi lahan dan perubahan iklim yang cukup drastis. Konversi lahan di Eropa berkembang cukup pesat. Industrialisasi yang maju menjadi aspek penting mengingat dibutuhkannya lahan yang cukup. Selain industrialisasi, pembukaan lahan untuk permukiman juga menjadi kendala yang besar di dunia pertanian Eropa. Untuk perubahan iklam juga membutuhkan adaptasi bagi berbagai varietas tanaman.

Kebijakan pertanian di Eropa telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir untuk membantu petani menghadapi tantangan baru dan juga dalam menanggapi perubahan sikap publik. Reformasi berturut-turut menandakan bahwa petani sekarang mendasarkan keputusan produksi mereka pada permintaan pasar. Memang jika dilihat, kebutuhan pasar sudah menjadi patokan penting mengapa tanaman yang di produksi menjadi beragam.
Perubahan kebijakan pertanian belakangan ini mengacu pada beberapa hal, diantaranya:
1. Praktik pertanian yang lebih hijau.
2. Penelitian dan penyebaran pengetahuan mengenai pertanian.
3. Sistem pendukung yang adil bagi petani.
4. Posisi petani yang kuat dalam rantai makanan.

Beberapa aspek penting lainnya yang perlu diketahui:
1. Membantu konsumen membuat pilihan berdasarkan informasi tentang makanan melalui skema pelabelan kualitas Eropa. Label-label ini, menunjukkan asal geografis dan penggunaan bahan atau metode pertanian yang diterapkan, termasuk juga diantaranya pertanian organik, serta membantu membuat produk pertanian Eropa kompetitif di pasar dunia.

2. Mempromosikan inovasi dalam pertanian & pengolahan makanan, dibantu oleh proyek penelitian yang ada di Eropa, untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan industri pertanian di sana.

3. Mendorong hubungan perdagangan yang baik dengan negara-negara berkembang. Cara yang bisa dilakukan ialah menangguhkan subsidi ekspor untuk produk pertanian dan mempermudah negara-negara berkembang untuk mengekspor produk mereka ke Eropa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *