Tips Atau Metode Pembukaan Lahan Kelapa Sawit

Posted on

Tips Atau Metode Pembukaan Lahan Kelapa Sawit -Pembukaan lahan adalah kegiatan yang dilakukan mulai dari perencana tata ruang dan tata letak lahan sampai dengan pembukaan lahan secara fisik. Membuka lahan merupakan pekerjaan teknis yang mudah dilakukan, asalkan tersedia peralatan dan sumber daya yang dibutuhkan. Apapun hal yang harus diperhatikan dalam pembukaan lahan di antaranya kesesuaian lahan yang akan dibuka tersebut untuk budi daya tanaman kelapa sawit.

A. Perencanaan tata ruang dan tata letak lahan

Pengumpulan data dasar, perencanaan tata ruang, dan tata letak merupakan bagian dari persiapan lahan uantuk pembangunan perkebunan kelapa sawit. Dalam pelaksanaan persiapan lahan ini, umumnya dihadapi beberapa masalah yang dapat menghambat kelancaran kerja. Untuk mengatasu hambatan-hambatan yang ada, perlu dilakukan penelitian terhadap lahan yang akan diusahakan. Penelitian tersebut sebaiknya mencakup topografi, iklim, status dan tata guna lahan, tanah, jaringan salutan air dan sungai, jaringan jalan, serta perkampungan dan penduduk.

1.Topografi

Dalam perencanaan tataruang atau pekerja konstruksi (civil engineering, sangat diperlukan data bentuk wilayah dan kemiringan lahan  yang dpat diambil dari survei topografi dan peta topografi  dengan skala 1: 2.000 atau 1: 2.500 selain itu, perkebunan kelapa sawi juga menghasilkan produksi dalam bentuk bulk (volume besar) sehingga pengangjutan TBS dari dalam blok  kejalan pengumpul  akan sangat sulit bila kemiringan lahan lebih besar dari 22 derajat.

2. Iklim

Di negara beriklim tropis seperti di Idonesia, faktor yang paling berpengaruh dalam pembukaan lahan dan pekerja sipil yaitu cura hujan. Faktor curah hujan tersebut terdiri dari aspek jumlah mm curah hujan, distribusi hari hujan,  dan intensitasnya. Pola cura hujan di Idonesia secara regional dipengaruhi oleh angin muson barat laut yang berhembus dari asia ke Australia. Angin muson ini menyerao uap air di laut Cina selatan sehingga menyebabkan hujan di sebagaian besar  Indonesia bagian barat dan tengah  antara bulan September sampai Febuari. Pengaruh angin pasat yang berhembus sepanjang khatulistiwa  menyebabkan timbulnya hujan yang hampir merata sepanjang tahun. walaupaun fenomena ini  bisa terganggu dengan munculnya el nino,  pola musim hujan di Indonesia bagian barat dan tengah umumnya tetap terjadi antara bulan  Septembar-Febuari.

3. setatus dan tata guna lahan

Setatus lahan merupakan ”lagu lama” yang hampir mencust ke permukaan bila ada pembukaan lahan akibat perbedaan kepentingan  (conflict of  interest) antara pengusaha perkebunan  dengan orang- orang yang merasa ”pernah membuka” atau ”menglolah lahan” tersebut. Untuk program kelancaran pembukaan, sebaiknya sebelu sampai tahap pekerjaan pembuka lahan, masalah status lahan sudah diselesaikan dengan melibatkan instansi yang terkait, mulai dari bupati, camat, lurah, badan pertahanan nasional, dan lain lain. Tata guna lahan sangat menentukan sistem pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Misalnya, tindakan teknis dalam pembukaan padang alang-alangakan lebih sedikit darinpada pembukaan hutan primer atau sekunder. Ditinjau dari segi penglolahan lahan, tata guna lahan di daerah beriklim tropis dapat dibagi menjadi 7 golongan, sebagai berikut.

  1. pernah ditanami tanaman musiman,
  2. Padang alang-alang.
  3. Semak blukar.
  4. Tanaman keras.
  5. Hutan primer/sekunder.
  6. Hutan gambaut.
  7. Tepian aliran sungai.

Dalam pembuatan peta topografi, sebaiknya dibuat batas penggolongan lahan tersebut untuk memudahkan perencananan tata ruang dan pekerjaan sipil selanjutnya.

4. Tanah

Kondisiksn tanah sangat menentukan metode pembukaan lahan. Pada lahan yang drainase permukaannya jelek atau lahan yang hutanyan lebat-di mnan kondisi tanahnya lembab dan basah-penggunaan alat berat untuk merobohkan dan merumpuk kayu tidak akan lancar. Dalam kondisi ini, sebaiknaya pembukaan lahan dilakukan dengan cara manual. Kedalaman air tanah juga perlu diketahui untuk kepentingan penyediaan air minum di pemukiman baru yang akan dibangun.

5. Jaringan saluran air dan sungai

Jaringan saluran air dan sungai perlu dipetakan dan diuraikan secara jelas, mencakup nama, ukuran, kapasitas, kedalaman, kualitas air, arah aliran air, dan derajat kemiringan. Pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit sebaiknya dilakukan pada lokasi  yang sumbser airnya terjamin, baik dari sumber air permukaan maupun air  tanah.

6. Jaringan jalan

Dalam program pembangunan dalam pemukiman dan pembangunan pabrik pengolahan kelpa sawit serta pengngankutan TBS dari blok ke pabrik, perlu dibangun jaringan jalan. Selain jalan utama dengan lebar 9 m (main road)  setiap 1km atau 2km (tergantung blok tanaman), juga perlu dibuatkan jalan pengumpul dengan lebar 7m (collection road) setiap 300 m.  Jalan protokol yang dikeraskan dengan pasir-batu (sirtu) mutlak di perlukan menghubungkan pabrik dengan jalan raya terdekat.  Hal ini terutama untuk mengantisipasi pengankutan CPO dan kernel ke luar kebun. Biasanya , jalan protokol berupa jalan utama yang dilebarkan menjadi 15 m.

7. Perkampungan dan penduduk

Sebelum melakukan pembukaan lahan, perlun diketahui terlebih dahulu data mengenai pusat pemukiman (dan adat istiadatnya), desa dan kota terdekat, sarana pelayanan umum (pukesmas, kantor polisi dan lain- lain), serta pengadaan barang kebutuhan sehari-hari. Hal ini perlu untuk mengatur sarana akomodasi sehingga jika penyediaan kebutuhan sehari-hari dan sarana pelayanan teknisyang ada di sekitar kebun kurang memadai, sarana logistik dapat  dipersiapkan dari kota terdekat. Untuk mengetahui potensi sumber daya manusia, perlu diketahui data kependudukan dan wilyah yang akan di kembamgkan, seperti perbandingan jumlah penduduk menurut jenis kelamin, umur, tetangag produktif dan non produktif, semangat dn budaya kerja, serta keterampilan kerja dalam bidang pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *